B’Scout: Dari Kepanduan Banten, Riset, Hibah hingga Pengakuan Hak Cipta dan Hilirisasi Produk

TANGERANG — Perjalanan panjang gagasan kepanduan dan pemberdayaan masyarakat di Banten kini memasuki tahap hilirisasi melalui pengembangan produk kerajinan kulit bermerek B’Scout. Produk tersebut diperkenalkan dalam kegiatan pameran PJJ UT pada 22 September 2026, sebagai bagian dari upaya menghubungkan riset, hibah perguruan tinggi, kreativitas, industri, perlindungan kekayaan intelektual, dan kewirausahaan. B’Scout tidak hadir sebagai produk yang lahir secara tiba-tiba. Di balik merek tersebut terdapat perjalanan yang berawal dari pengalaman kepanduan dan bina warga Baduy di Banten, berkembang melalui pengalaman akademik dan riset di Amerika Serikat, kemudian diterjemahkan menjadi produk kreatif melalui dukungan hibah internal Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) dan kolaborasi produksi dengan mitra Teaching Factory (TEFA) di Tangerang. Perjalanan tersebut juga diperkuat oleh pencatatan hak cipta atas karya desain produk merek sepatu B’SCOUT. Berdasarkan Surat Pencatatan Ciptaan yang tersedia, nomor dan tanggal permohonan tercatat EC00202368981, 19 Agustus 2023, dengan nomor pencatatan 000501932. Dokumen tersebut mencatat Dr. Zalzulifa, M.Pd. sebagai pencipta dan Politeknik Negeri Media Kreatif sebagai pemegang hak cipta. Jenis ciptaan tercatat sebagai Seni Gambar dengan judul “Desain Produk Merek Sepatu B’SCOUT”. Surat tersebut ditandatangani oleh Anggoro Dasananto, Direktur Hak Cipta dan Desain Industri, atas nama Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Gagasan B’Scout berakar dari pengalaman kepanduan dan pemberdayaan masyarakat di Banten. Pada 2007, sebuah inisiatif kepanduan diwujudkan melalui pembangunan sekolah kepanduan di Desa Kompol, Kecamatan Leuwidamar, kawasan yang memiliki kedekatan dengan komunitas Baduy. Pengalaman tersebut melahirkan pemikiran bahwa kepanduan bukan hanya aktivitas pendidikan luar ruang, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun karakter, kepemimpinan, kemandirian, keterampilan, kreativitas, dan kewirausahaan. Dari pengalaman tersebut berkembang gagasan bahwa nilai-nilai lokal dan keterampilan masyarakat dapat diterjemahkan menjadi produk kreatif yang tidak hanya memiliki fungsi ekonomi, tetapi juga membawa identitas dan cerita budaya.

Perjalanan gagasan B’Scout kemudian memperoleh perspektif internasional melalui pengalaman akademik di Amerika Serikat. Pada 2016, pengalaman sebagai mahasiswa riset sandwich di The Ohio State University (OSU), Columbus, Ohio, memberikan kesempatan untuk melihat lebih dekat bagaimana tradisi, keterampilan tangan, kemandirian komunitas, dan kewirausahaan dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi. Pengalaman mengunjungi kawasan komunitas Amish di sekitar Columbus menjadi salah satu sumber pembelajaran mengenai pentingnya craftsmanship, kualitas, identitas komunitas, dan keberlanjutan tradisi. Pengalaman tersebut memperkuat gagasan bahwa produk yang berakar pada komunitas lokal tidak harus berhenti sebagai produk lokal. Dengan desain, kualitas, cerita, inovasi, dan tata kelola yang tepat, karya lokal dapat memiliki daya jelajah global.

Dalam perjalanan pengembangan kekayaan intelektual B’Scout, pencatatan hak cipta menjadi bagian penting dari dokumentasi karya. Surat Pencatatan Ciptaan mencantumkan nomor permohonan EC00202368981 dengan tanggal 19 Agustus 2023 dan nomor pencatatan 000501932. Pencipta yang tercantum adalah Dr. Zalzulifa, M.Pd., sedangkan pemegang hak cipta adalah Politeknik Negeri Media Kreatif. Jenis ciptaan adalah Seni Gambar dengan judul “Desain Produk Merek Sepatu B’SCOUT”, yang pertama kali diumumkan pada 19 Agustus 2023 di Jakarta Selatan. Dokumen tersebut juga menyebutkan jangka waktu pelindungan berlaku selama 50 tahun sejak ciptaan pertama kali dilakukan pengumuman.

Tahap berikutnya adalah proses hilirisasi melalui dukungan hibah internal Polimedia. Dukungan hibah memberikan ruang bagi pengembangan gagasan menjadi produk yang lebih konkret, mulai dari konsep, desain, pengembangan produk hingga proses produksi. Dalam pelaksanaannya, B’Scout dikembangkan melalui kolaborasi dengan pabrikan mitra Teaching Factory (TEFA) di Tangerang. Kolaborasi tersebut menjadi penting karena hilirisasi produk kreatif tidak cukup hanya menghasilkan ide atau prototipe. Produk perlu melewati proses produksi, pengujian kualitas, penyempurnaan desain, dan kesiapan untuk diperkenalkan kepada pasar. Dengan demikian, B’Scout menjadi salah satu contoh bagaimana riset dan hibah perguruan tinggi dapat diarahkan menuju produk kreatif yang memiliki nilai tambah.

Pada 22 September 2026, B’Scout diperkenalkan dalam kegiatan pameran PJJ UT. Pameran tersebut menjadi momentum untuk memperlihatkan perkembangan produk kepada publik sekaligus menunjukkan perjalanan hilirisasi yang telah dilakukan. B’Scout hadir bukan sekadar sebagai produk kerajinan kulit, tetapi sebagai representasi dari proses panjang yang menghubungkan pengalaman, gagasan, riset, kekayaan intelektual, hibah, pengembangan produk, TEFA, produksi, pameran, dan pasar. Proses tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi perguruan tinggi dapat mengambil bentuk konkret melalui produk kreatif yang dapat digunakan, dipamerkan, dan dikembangkan menjadi peluang usaha.

Dalam konteks pendidikan vokasi, B’Scout memiliki posisi strategis karena mempertemukan pendidikan, riset, hibah, HKI, TEFA, industri, kewirausahaan, pameran, dan pasar. Pendidikan memberikan pengetahuan dan keterampilan, riset menghasilkan gagasan dan inovasi, hibah memberikan dukungan pengembangan, HKI memberikan landasan perlindungan terhadap karya intelektual, TEFA dan industri menerjemahkan gagasan menjadi produk, kewirausahaan mengubah produk menjadi peluang ekonomi, sedangkan pameran dan pasar mempertemukan produk dengan masyarakat dan pengguna. Ekosistem tersebut dapat dirumuskan sebagai Riset, Hibah, Kreativitas, HKI, TEFA, Produksi, Pameran, Kewirausahaan, dan Pasar. Model tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi bukanlah sebuah titik akhir, melainkan proses berkelanjutan.

Salah satu kekuatan B’Scout terletak pada provenance, yaitu jejak sejarah dan asal-usul yang membentuk identitas produk. Jejak tersebut dimulai dari pengalaman bina warga dan kepanduan di Leuwidamar, Banten, pada 2007, kemudian berkembang melalui pengalaman riset di The Ohio State University, Columbus, pada 2016, pembelajaran mengenai craftsmanship, kemandirian komunitas dan kewirausahaan dari pengalaman komunitas Amish, pengalaman pengenalan dan display karya dalam konteks internasional, pencatatan hak cipta atas desain produk merek sepatu B’SCOUT pada 2023, dukungan hibah internal Polimedia, pengembangan dan produksi melalui TEFA Tangerang, hingga diperkenalkan dalam pameran PJJ UT pada 22 September 2026. Jejak tersebut memberikan B’Scout karakter sebagai brand yang memiliki sejarah dan proses pengembangan, bukan sekadar produk yang diciptakan untuk kepentingan komersial.

B’Scout dibangun di atas lima nilai utama, yaitu Pandu, Banten, Craftsmanship, Entrepreneurship, dan Global Mindset. Pandu merepresentasikan karakter, disiplin, kepemimpinan, keterampilan, dan kemandirian. Banten merepresentasikan identitas, pengalaman, budaya, dan potensi masyarakat lokal. Craftsmanship menghargai keterampilan, ketelitian, kualitas bahan, dan proses produksi. Entrepreneurship mengubah kreativitas dan keterampilan menjadi nilai ekonomi dan peluang usaha. Global Mindset membawa karya yang berakar dari lokalitas untuk memiliki daya jelajah dan apresiasi dalam lingkungan global.

Perjalanan B’Scout menunjukkan bahwa hilirisasi riset dan hibah dapat menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar produk. Di dalamnya terdapat cerita tentang kepanduan, masyarakat, pendidikan, riset, pengalaman internasional, kekayaan intelektual, industri, TEFA, dan kewirausahaan. Dari pengalaman bina warga Baduy dan kepanduan di Leuwidamar pada 2007, pembelajaran dari pengalaman akademik di Columbus pada 2016, pencatatan hak cipta atas desain produk merek sepatu B’SCOUT, dukungan hibah internal Polimedia, hingga pengembangan dan produksi bersama mitra TEFA Tangerang, B’Scout memperlihatkan perjalanan sebuah gagasan menuju produk kreatif. Pameran PJJ UT pada 22 September 2026 menjadi salah satu ruang untuk memperlihatkan perjalanan tersebut kepada publik.

Pada akhirnya, B’Scout membawa sebuah pesan bahwa karya lokal tidak harus berhenti sebagai karya lokal. Dengan pendidikan, riset, kreativitas, perlindungan kekayaan intelektual, industri, dan kewirausahaan, karya dari Banten dapat dikembangkan untuk memiliki daya jelajah global. B’Scout — From Banten to the World. Pandu Banten • Creative Craft • Entrepreneurship • Global Reach.

 

Add a Comment

Your email address will not be published.